Pagi ini hari pertama ku untuk
melangkah ke jenjang lebih tinggi ya.. belajar di salah satu SMP favorit di
daerah Surabaya itu menjadi pilihan utamaku,, bertemu teman baru salah satunya
, “ Cantika Maulidiya , saya lahir di sidoarjo dan mempunyai cita-cita sebagai
.... “ . “ selanjutnya , nomer absen .., “ . “ gua Mahendra Triprasetya , gua
lahir di Jakarta gua seneng banget sama
seni, apalagi seni musik ,, “ cowok tinggi ini mempunyai peran khusus dalam
anggota osis , hal itu pula yang membuat kakak2 kelas hampir terpanah oleh nya ... ,
Kali ini pelajaran seni musik
silahkan masuk keruang musik dan kalian boleh pegang alat musik kesukaan kalian
, perintah Bu rini kepada kita semua.. Hendra pun bergegas untuk masuk ruangan
itu . “ aduh apa.an sih biasa aja kalo jalan gak pake serondol2 bisa kan ? “
celoteh ku pada cowok tinggi itu. “ sorry sorry gua buru-buru gak sabar pegang
gitar nih sorry cil “, jawab nya padaku. “ resek tuh anak mana
panggil cil2 segala emang aku kancil apa ? “ gumam ku . “ udahlah can tuh anak
naksir kamu kali haha “ goda sahabatku abell.
Kalian sudah ambil alat kesukaan
kalian kan sekarang duduk di bangku kalian masing2 dan ibu akan membagi
kelompok untuk tugas 2 minggu kedepan .
1 kelompok terdiri dari 2 orang yaitu laki2 dan perempuan silahkan ambil
kertas ini secara acak di depan meja saya. “ i hope bisa sepasang sama
hendra hihi abis keren tuh anak “ girang
ifa padaku . sebelum aku mengambil kertas itu aku berdoa semoga tertera nama
Andika Radit disitu dia salah satu cowok
yang menurutku paling pintar serius diantara lain nya ,
“bismillahirohmanirohim” lirihku dalam hati . setelah aku buka dan ternyata “
MAHENDRA TRIPRASETYA , oh my god kenapa malah anak ini yang muncul” kesal ku
dalam hati .
Perlahan aku menghampiri hendra
dengan muka sinis , “ kamu 1 kelompok sama aku nih kertasnya “ sambil
menyodorkan selembar kertas. Tapi Hendra masih keasyik.an dengan gitarnya dan
gerombolan cewek2 itu . dua , tiga , enam menit aku masih bersabar hingga
mereka menghilang dengan sendirinya. Tiba-tiba “ ngapain lo disini cil ,
ngefans juga sama gua “ dengan penuh rasa PD , “ hiuh ogah , nih tugas buat 2
minggu lagi , kamu 1 kelompok sama aku. dan semua konsep udah aku pikirin
tinggal kita kerjain” tegasku . “ konsep apa.an nih main pianika doang, pake
konsep gua aja deh “ ejek cowok tiang itu padaku . “ enak aja gak bisa , “
dengan nada tinggiku . “ ribut mulu dari tadi. Udah kalian suit aja siapa yang
menang dia yg ngatur semua konsep nya, bereskan ?” Andika dengan ke dewasaanya
melerai kami dan itulah yang membuatku
kagum padanya . “oke Fine kita suit , siapa yang menang dia bakal jadi
pemimpinnya “ ucap ku pada hendra , “ Gunting, batu, kertas” “ NAH gua kan yang
menang haha udalah lo tuh kecil nurut aja sama gua , “ sindir hendra . “resek
banget sih , oke kita pake konsep kamu , dan gak usah hina orang juga kali “
batinku
Dibawah terik matahari dengan
segelas es podeng ditangan sedikit meredamkan amarahku. “latihan yok cil “ ajak
hendra sambil menyodorkan kertas yang berisi lirik lagu .... ,
2 tahun kemudian
Saat itu aku ngerasa ada yang berbeda dari Hendra sikap
manis nya dan tutur katanya yang halus membuatku nyaman didekatnya , kita
sering sharing berbagai hal setelah 1tahun kita terpisah kelas. “ gua suka sama
sahabat lo bell , “ ucap hendra pada abell pelan. “BENERAN NDRA , Meskipun
Agama mu berbeda ?” “ iya bel gua beneran suka sahabat lo apa adanya aku titip
surat buat dia ya..”
Dear Small
Dan perbedaan itu
membuat kita sadar akan mengharagai cinta. Bukan apa yang dilihat.. tapi apa
yang kita rasakan.. Bukan apa yang di dengar tapi yang kita fikirkan.. Dan
bukan apa yang di ucap tapi apa yang kita inginkan.. KAMU.. YA KAMU YANG AKU
INGIN SAAT INI.. Ketika waktu memisahkan kita aku mulai berfikir kalau jarak
yang memisahkan kita bukan hal yang memisahkan cinta kita.. melainkan
mengajarkan kita apa itu KESETIAAN,, .. CINTA juga menjaga kita satu sama lain
agar kita tau apa kesetiaan itu..
Tapi.. hanya satu
yang gak akan pernah bisa menyatukan kita yaitu AGAMA ..
From Tall
Tidak ada komentar:
Posting Komentar