“Matahari
terlihat cukup cantik pada pagi ini seperti telor mata sapi buatan bunda yang
sudah ada didepan mataku , mengambil sendok makan dan sebuah gelas berisi teh
hangat. tak lupa ku mengucap syukur pada Tuhan karena kemurahan hati dan karunia-Nya
aku masih bisa melihat senyuman sosok wanita karier,bijaksana,parasnya yang
anggun. matanya yang eksotik membuat semua orang terpanah saat memandangnya.
Ya.. itulah Bunda seorang malaikat tanpa sayap namun ia mampu membawaku terbang
menggapai semua anganku . terimakasih Tuhan engkau masih mengizinkan ku
menikmati masa putih abu-abu dengan langkah-langah kecil yang akan ku lakukan
nanti.”gumam Dinda saat melahap makanan nya .
“Senior
High School gelar yang ada di benak ku sekarang . seorang cowok berpostur
tinggi , rambut bak anggota militer dan gaya kepimipinan yang ada tubuhku ini
membuat semua wanita menjadi salah tingkah saat aku berjalan di depannya . Masa
jabatan KETOS akan berakhir 4 bulan ini tentu aku tak mau melewatkannya begitu
saja . Masa Orientasi Siswa akan segera dimulai , skenario telah disusun
tinggal menunggu Hari H membuat mereka menjadi gerah , gila , marah saat tugas
dan hukuman sudah ada didepan mata. Tapi tentu saja yang aku lakukan tak
mungkin menyimpang dari ketentuan . mungkin 1 yang menyimpang yaitu mencari
jodoh saat MOS berlangsung hahaha“tawa Mamat saat berkaca di depan spion
sepedanya.
“Terima
kasih Tuhan apa yang aku perjuangkan setahun ini tak sia-sia buku bertumpukan
menghasilkan buah yang manis untukku Juara 1 olimpiade kimia Se-Nasional
mengantarku mengarungi hidup yang lebih ringan , setidaknya uang tagihan SPP
selama 5 bulan telah lunas terbayar . maklum saja aku hanya seorang anak tukang
kebon di SMA ini. Tapi hal itu tidak menghalangiku untuk mencapai apa yang ku
mau “ ucap incha dalam lamunannya.
“
Hari ini bangku sekolah akan ku jalani lagi tapi tetap saja yang ku tau hanya
basket, distro , nongkrong , dan fans . bahkan buku buku semester lalu hampir
tak ada goresan tinta sedikit pun itu karena aku lebih sering dispen untuk
lomba basket. Pelajaran , tugas , nilai ,absensi sedikit pun tak ku jadikan
beban dipundak. Terkadang aku sempat
bertanya who can change me be a good boy ? “ fikir Irsad sambil mendribell bola
basketnya dan shotting ke ring .
tiba-tiba ada seorang gadis dengan
terburu-buru lari begitu cepat hingga tak sadar bola itu berada tepat di atas
nya dan “ ouuw my god bola siapa ini pagi-pagi uda berkeliaran di kepala ku “
gumam Dinda sambil menggaruk-garuk kepala. “ ehh sorry bolanya gak sengaja
kenak kamu “ sambung cowok bertubuh tinggi itu . “ sorry-sorry liat nih
kuncritan ku putus semua , udah minggir-minggir “ jawab Dinda dengan nada
tinggi . “ cewek apa singa sih ketus banget “ sambil bergeser ia memberi jalan
buat Dinda .
“
Huah .. sungguh bagi ku ini hari yang menyebalkan dimana semua murid baru menjadi
orang giila .. apalagi MOS ini 1 minggu ,, sanggup gak yah harus bangun pagi
dengan membawa kresek hitam yang di fungsikan sebagai TAS ? -,- , melewati
jembatan layang yang dipenuhi anak nongkrong bolos sekolah .” batin Dinda
sambil memanyunkan bibirnya. “ Eh , Manis gak sanggup beli tas ya , sampai bawa kresek segala , besok aku beliin
deh ?” sindir lelaki itu. Tak berkomentar
Dinda hanya mengelus dada dan mempercepet langkahnya .
Tiba di sekolah seperti biasa Irsad , Mamat , dan Incha
memarkir sepeda vixi nya dan berjalan menuju kelas masing-masing seperti burung
dan sarang nya, dimana ada Mamat selalu ada 2 lelaki itu ,keadaan status
ekonomi tak menjadi masalah bagi persahabatan mereka,bahkan mereka sama-sama dinilai GOOD LOOKING bagi guru-guru dan kaum hawa yang
senantiasa memberi sinyal asmara bagi mereka . “ Pagi semua permisi “ sambut
Incha dengan senyum ramahnya. “ Pagi juga Tiga Serangkai yang mempesona hati
”goda salah satu cewek dari gerombalan itu .
”Kamu tau yang kamu bawa ini apa ?” tanya lelaki berambut
bak militer itu . “Tau kak ini nasi jagung .” jawab Dinda dengan polos . “ kalo
nasi jagung itu lembut , ini namanya nasi empok dek , siapa yang beli ? “ tanya
lelaki itu . “ Mama kak” jawab Dinda kaku. ”Ini mama kamu yang beli , kamu gak
kasihan sama mamamu,udah bangun pagi,buatin sarapan kamu,masih kamu suruh
beli,kamu sudah besar dek liat berapa umur kamu sekarang ?”semprot Mamat dengan
nada yg tegas. Dinda hanya bisa menundukkan kepala , baru kali ini dia di
bentak abis-abisan bahkan melebihi suara mamanya saat sedang marah,sedikit
matanya meneteskan air mata,sambil menjawab”maaf kak”
Di hari ke dua masih saja Dinda yang menjadi sasaran si
Mamat. “siapa yang merasa atributnya tidak lengkap ,silahkan maju kedepan”perintah
salah satu senior yang lain. Semuanya berdiri tanpa dikomando berbaris rapi di
depan whiteboard.”Oh semua kompak dengan kesalahan yang sama,give applous buat
kelas ini”pancing Mamat. Di antara semua teman-temannya dengan polos Dinda pun
bertepuk tangan.”Hei kamu cewek yang dibelakang,ngapain kamu tepuk tangan
?”tanya si Mamat.”Mampus bodoh banget sih aku “sambil menepuk keningnya.
“ngapain tepuk tangan Dinda?”tanya teman sebelahnya . “hehe refleks”jawab
Dinda.
Disaat istirahat Dinda selalu menyempatkan diri mengunjungi
perpustakanan , yang ia cari bukan novel melainkan majalah IT yang sedang
membuming,setelah ia mengisi daftar hadir segera ia duduk manis membaca majalah
itu.disamping tempat duduknya muncul seorang lelaki berlesung di kedua
pipinya,Dinda pun hanya melihat sekilas saat lelaki itu tersenyum ramah
padanya,walaupun ia tak pernah bertemu sebelumnya namun senyuman itu membuat
hati Dinda berdetak lebih cepat. Tak terasa sudah 20 menit ia duduk disamping
lelaki itu , bel masuk pun sudah berdering,sambil membereskan majalah ia tak
sadar mengambil pensil 2B lelaki itu. “Incha Prasetya”ia baca sekilas kertas
yang menempel di pensil 2B itu.”Loh ini pensil anak lelaki itu,gimana
balikinnya?”gelisah Dinda dalam hati.
Saat bel pulang sekolah tiga serangkai itu tak sengaja
bertemu Dinda, saat itu Dinda duduk di sendiri dibawah bonsai dan memberi makan
burung-burung merpati. “liat cewek itu,barusan aku bentakin waktu MOS “kata
Mamat. “Tuh anak juga kenak bola basket waktu aku shotting ke ring kemaren,tapi
manis juga sih ”sambung Irsad. “besok kalian bakal naksir sama cewek itu”kata Incha .”naksir ,
ogah “jawab Mamat dan Irsad serentak.
Hari
pun silih berganti namun entah mengapa pandangan ketiga lelaki itu tak pernah
lepas dari gerak gerik Dinda . Malah Mamat berfikir untuk mendapatkannya di
pensi ulang tahun sekolah. Begitu juga dengan Irsad karna ia terkenal kapten
basket disekolah dengan mudahnya ia mendapat
kan gadis ketus itu.
Setelah
MOS selesai Dinda merasa semakin dekat dengan kakak kelas itu , setiap pulang sekolah
ia tak lupa menuggu nya di bawah pohon cemara dan mengajak Dinda pulang menaiki
sepeda vixi hijau toscha nya. Memang disini beda dengan kota yang lain pelajar
SMA lebih suka berjalan ataupun bersepeda daripada menggunakan motor
pribadinya.
Hal
yang Dinda ingat, saat ia menanyakan sebuah pensil 2B miliknya,untung saja
benda itu masih tersimpan rapi di dalam kotak pensil
“ Pensil ku mana ?” tanyanya sambil mengeluarkan buku
gambar berukuran A3 di dalam tas nya,
“ iya iya nih masih runcing .” Cibir Dinda
“ hem lumayan, kamu duduk disana diam jangan bergerak !”
perintah Incha pada Dinda.Ia menurutinya hingga 20 menit berlalu Dinda seperti
patung yang tak dipebolehkan kedip sekalipun.
“ wait...1..2..3.. ,nih perfect kan ?” tanyanya dengan angkuh
Ternyata
ia menggambar sketsa wajah Dinda dengan rambut lurus sebahu,memakai bandana dan
sebuah kalung dileher.Dinda pun merasa terkesima saat melihat sketsa itu tapi terkadang ia juga terharu dibalik kedua
lesung pipi Incha terdapat satu goresan problema ekonomi yang membelengguh nya.
Purnama
masih hinggap ditengah kegelapan , angin tak seperti biasanya kali ini menembus
pikiran kedua lelaki itu , hembusan angin yang merasuk dadanya tak mempan
meredam kan amarah. “Kau pikir kami senang melihat kau bersama gadis itu ,
hatimu patut disiram air panas agar kau bisa merasakan betapa panas nya
perasaan ini !” begitu ancaman Irsad terhadap Incha “kurang apa bantuan yang
telah kami berikan padamu ?”tambah Mamat. “apa yang ada di otak kalian ? apa
gara-gara gadis itu persahabatan ini kalian hentikan sendiri ?” tak sekedar
dengan gelengan kepala tapi Incha terngiang akan ucapan sampah dari mulut kedua
sahabatnya itu mengapa keluar sekehendak
hatinya begitu saja. Sejak pertengkaran di sebuah lapangan basket ditemani rinaian air hujan mereka menyudahi ikatan
sebuah persahabatan yang telah mereka genggam selama ini . satu kata yang
dijadikan prinsip mereka adalah“KITA JALANI KEHIDUPAN MASING-MASING” mulai
detik itu dan seterusnya mereka tak pernah terlihat seperti burung dan
sangkarnya, mereka bagaikan magnet yang memiliki kutub yang sama hingga mereka
saling tolak menolak ataupun menjauh saat berpapasan.
Semburat
sinar kuning menembus celah-celah langit
biru kabut putih masih menutupi puncak gunung arjuna , lalu matahari tiba-tiba
merekah dengan sendirinya tapi keadaan itu tak membuat pikiran Dinda terang
begitu saja bayangan akan senyuman Incha yang hilang masih sering
menghantuinya. Ya .. mungkin itu hal yang sudah di pilih Incha menjauh dari
Dinda demi persahabatan nya utuh kembali .
Malam
ini , malam yang ditunggu sebagian besar murid baru disekolah,Ya pada malam
pensi ini mereka akan mendengar nyanian merdu dan petikan alunan akustik dari
seorang lelaki yang sudah lama mereka kagumi siapa lagi kalo bukan Mamat kakak
kelas sekaligus KETOS di sekolah ini . semakin malam semakin terasa kemistri di
acara itu . Tiba-tiba sosok yang mereka kagumi sudah berdiri di atas panggung
dengan gitar dan sebuah kursi yang akan ia duduki nanti. Namun nafas mereka
tersendat saat Mamat mengatakan “Lagu ini akan saya persembahkan untuk gadis
yang duduk dibawah pohon rindang itu Dinda Larasanti “ tiba-tiba ratusan mata
penuh kecemburuan telah menuju pada pandangan Dinda yang sedari tadi duduk
menikmati arum manis ditangannya. Berbeda dengan Incha dan Irsad ditempat yang
tak sama tapi pikiran mereka di satu titik” nyanyian Mamat untuk Dinda”seakan
mereka kalah 1 langkah dalam mendapatkan sosok si manis itu. Gemuruh tepukan
tangan terdengar di sela-sela saat Mamat menyanyikan lagu “The Way You Look At
me-Christian Bautista. Setelah nyanyian itu berakhir kesunyian pun melanda saat
Mamat menghampiri Dinda dan mengungkapkan perasaannya tapi Dinda hanya terdiam
kaku lalu berlari meninggalkan tempat itu tanpa mengeluarkan 1 kata pun,Mamat
pun menyimpulkan bahwa kepergian Dinda itu telah menjawab pertanyaan nya.
Keesokan harinya Hal yang sama terulang kembali
seakan-akan Irsad tak mau kalah dalam mengungkapkan perasaan itu. Saat jam
istirahat telah datang ia menurunkan sebuah kertas pelangi berbentuk Love
bertuliskan “I LOVE YOU Dinda “ tepat disamping jendela tempat Dinda duduk ,
Tetapi Dinda pun dengan mudahnya mengambil gunting dan memotong tali itu hingga
tulisan itu jatuh tak berdaya di dalam selokan.
Tingkah Ketiga serangkai itu membuat Dinda menjadi
kehilangan konsentrasinya saat mengikuti KBM. Akhirnya ia putuskan bertemu
dengan mereka di sebuah taman sore hari. Pukul empat sore , matahari seakan
perlahan menghilang dilangit bagian barat, lalu berganti warna biru , biru yang
luas menguasai angkasa,satu warna yang bisa dirasakan kedamaiannya merajuk di
dalam dada. Mereka silih ganti berdatangan. Mereka hanya bertanya dalam hati
untuk apa mereka bertemu ? tapi penjelasan Dinda sudah cukup menjawab
pertanyaan nya. Mamat dan Irsad pun mengakui bahwa Inchalah yang dipilih Dinda,
mesti tak terucap lewat kata-kata ,Dinda tau bahwa senyum mereka itu adalah
tulus tak ada rasa benci dan kembalinya persahabatan mereka suda ada di depan
mata.
Incha
mengajak Dinda keluar nanti malam,tentu saja ia menyetujui ajakannya. Saat
malam datang sendirinya menunggu didepan rumah dengan menggenggam lembaran
hasil sketsanya dan sebuah laptop yang menemaninya, 90 menit berlalu ia masih
menunggu kehadiran Incha,hembusan angin yang menyapanya tak membuat ia sedikitpun
masuk ke dalam rumah.
Tiba-tiba
Dinda melihat layar di jendela maya twitter , HOME yang banyak berisi ucapan SELAMAT JALAN untuk Incha membuat
wajah Dinda cemas,ia baru yakin saat HP
nya berdering panggilan dari Mamat yang mengabarkan bahwa Incha kecelakaan saat
hendak menjemputnya dirumah.
Tubuh
Dinda tak berdaya, denyut nadinya berjalan lambat, Lembaran sketsa itu lepas
dari genggaman, tumpahan air mata yang tak sanggup ia bendung lagi saat dia
mengetahui bahwa Incha kecelakaan saat hendak pergi menemuinya. Bergegas ia
mencari tau dimana rumahnya....tepat di persimpangan jalan banyak polisi yang
sedang bertugas, ya saat itu Dinda melihat pecahan spion dan setir sepeda Incha,
bahkan ia menemukan pensil 2B dan boneka berlumuran darah yang masih Dinda
simpan hingga sekarang.
Keesokan
harinya suasana sekolah menjadi dingin , tak ada sapaan “selamat pagi”,senyuman
ramah itu menghilang jauh dari mata,ucapan selamat jalan,doa bahkan bingkisan
bunga selalu ada di bangku Incha.Mamat dan Irsad memberi Dinda sebuah diary Incha. saat ia buka ternyata
disetiap lembaran itu ada sketsa tubuh saat Dinda berjalan, tersenyum dan saat
memberi makan burung-burung merpati,sepulang sekolah mereka pun memutuskan pergi kepemakaman Incha , di tengah perjalanan
Irsad dan Mamat berhenti sejenak di lapangan bola basket mereka menyesal saat
prtengkaran itu terjadi,karena saat itu terakhir kalinya mereka bersama .
sepeda vixi yang berjajar 3 kini hanya 2.
Saat
berada di pemakaman , Dinda pun memegang batu nisan Incha, menaburkan bunga seketika berkata dalam hati“TUHAN
terimakasih kau telah memberiku 1
halaman cerita yang indah, Kak Incha
andai saja kamu mengungkapkanya sekarang pasti kamu tau apa yang aku
jawab nanti,” pintanya lirih sambil
menghapus air mata dipipi. Mamat dan Irsad pun tak sungkan meneteskan air
mata,mereka ingin meminta maaf dan mengulangi persahabatan itu, mereka sadar
persahabatan itu melebihi segalanya . Tapi itu sudah terlambat,penyesalan
selalu datang terakhir, Akhirnya mereka pun berjanji akan menjaga Dinda samapai
kapanpun untuk sahabat mereka Incha disurga , rintikan hujan pun ikut menjadi
saksi kepergian sahabat kecilnya itu. Terlintas mereka melihat Incha
melambaikan tangan nya , mengucapkan selamat tinggal dengan senyuman manis yang
khas dengan lesung dikedua pipinya J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar