Rabu, 27 Maret 2013

STALKING


“Matahari terlihat cukup cantik pada pagi ini seperti telor mata sapi buatan bunda yang sudah ada didepan mataku , mengambil sendok makan dan sebuah gelas berisi teh hangat. tak lupa ku mengucap syukur pada Tuhan karena kemurahan hati dan karunia-Nya aku masih bisa melihat senyuman sosok wanita karier,bijaksana,parasnya yang anggun. matanya yang eksotik membuat semua orang terpanah saat memandangnya. Ya.. itulah Bunda seorang malaikat tanpa sayap namun ia mampu membawaku terbang menggapai semua anganku . terimakasih Tuhan engkau masih mengizinkan ku menikmati masa putih abu-abu dengan langkah-langah kecil yang akan ku lakukan nanti.”gumam Dinda saat melahap makanan nya .
“Senior High School gelar yang ada di benak ku sekarang . seorang cowok berpostur tinggi , rambut bak anggota militer dan gaya kepimipinan yang ada tubuhku ini membuat semua wanita menjadi salah tingkah saat aku berjalan di depannya . Masa jabatan KETOS akan berakhir 4 bulan ini tentu aku tak mau melewatkannya begitu saja . Masa Orientasi Siswa akan segera dimulai , skenario telah disusun tinggal menunggu Hari H membuat mereka menjadi gerah , gila , marah saat tugas dan hukuman sudah ada didepan mata. Tapi tentu saja yang aku lakukan tak mungkin menyimpang dari ketentuan . mungkin 1 yang menyimpang yaitu mencari jodoh saat MOS berlangsung hahaha“tawa Mamat saat berkaca di depan spion sepedanya.
“Terima kasih Tuhan apa yang aku perjuangkan setahun ini tak sia-sia buku bertumpukan menghasilkan buah yang manis untukku Juara 1 olimpiade kimia Se-Nasional mengantarku mengarungi hidup yang lebih ringan , setidaknya uang tagihan SPP selama 5 bulan telah lunas terbayar . maklum saja aku hanya seorang anak tukang kebon di SMA ini. Tapi hal itu tidak menghalangiku untuk mencapai apa yang ku mau “ ucap incha dalam lamunannya.
“ Hari ini bangku sekolah akan ku jalani lagi tapi tetap saja yang ku tau hanya basket, distro , nongkrong , dan fans . bahkan buku buku semester lalu hampir tak ada goresan tinta sedikit pun itu karena aku lebih sering dispen untuk lomba basket. Pelajaran , tugas , nilai ,absensi sedikit pun tak ku jadikan beban dipundak.  Terkadang aku sempat bertanya who can change me be a good boy ? “ fikir Irsad sambil mendribell bola basketnya dan shotting ke ring .

 tiba-tiba ada seorang gadis dengan terburu-buru lari begitu cepat hingga tak sadar bola itu berada tepat di atas nya dan “ ouuw my god bola siapa ini pagi-pagi uda berkeliaran di kepala ku “ gumam Dinda sambil menggaruk-garuk kepala. “ ehh sorry bolanya gak sengaja kenak kamu “ sambung cowok bertubuh tinggi itu . “ sorry-sorry liat nih kuncritan ku putus semua , udah minggir-minggir “ jawab Dinda dengan nada tinggi . “ cewek apa singa sih ketus banget “ sambil bergeser ia memberi jalan buat Dinda .
“ Huah .. sungguh bagi ku ini hari yang menyebalkan dimana semua murid baru menjadi orang giila .. apalagi MOS ini 1 minggu ,, sanggup gak yah harus bangun pagi dengan membawa kresek hitam yang di fungsikan sebagai TAS ? -,- , melewati jembatan layang yang dipenuhi anak nongkrong bolos sekolah .” batin Dinda sambil memanyunkan bibirnya. “ Eh , Manis gak sanggup beli tas ya  , sampai bawa kresek segala , besok aku beliin deh ?”  sindir lelaki itu. Tak berkomentar Dinda hanya mengelus dada dan mempercepet  langkahnya .
            Tiba di sekolah seperti biasa Irsad , Mamat , dan Incha memarkir sepeda vixi nya dan berjalan menuju kelas masing-masing seperti burung dan sarang nya, dimana ada Mamat selalu ada 2 lelaki itu ,keadaan status ekonomi tak menjadi masalah bagi persahabatan mereka,bahkan  mereka sama-sama dinilai GOOD  LOOKING bagi guru-guru dan kaum hawa yang senantiasa memberi sinyal asmara bagi mereka . “ Pagi semua permisi “ sambut Incha dengan senyum ramahnya. “ Pagi juga Tiga Serangkai yang mempesona hati ”goda salah satu cewek dari gerombalan itu .
            ”Kamu tau yang kamu bawa ini apa ?” tanya lelaki berambut bak militer itu . “Tau kak ini nasi jagung .” jawab Dinda dengan polos . “ kalo nasi jagung itu lembut , ini namanya nasi empok dek , siapa yang beli ? “ tanya lelaki itu . “ Mama kak” jawab Dinda kaku. ”Ini mama kamu yang beli , kamu gak kasihan sama mamamu,udah bangun pagi,buatin sarapan kamu,masih kamu suruh beli,kamu sudah besar dek liat berapa umur kamu sekarang ?”semprot Mamat dengan nada yg tegas. Dinda hanya bisa menundukkan kepala , baru kali ini dia di bentak abis-abisan bahkan melebihi suara mamanya saat sedang marah,sedikit matanya meneteskan air mata,sambil menjawab”maaf kak”
            Di hari ke dua masih saja Dinda yang menjadi sasaran si Mamat. “siapa yang merasa atributnya tidak lengkap ,silahkan maju kedepan”perintah salah satu senior yang lain. Semuanya berdiri tanpa dikomando berbaris rapi di depan whiteboard.”Oh semua kompak dengan kesalahan yang sama,give applous buat kelas ini”pancing Mamat. Di antara semua teman-temannya dengan polos Dinda pun bertepuk tangan.”Hei kamu cewek yang dibelakang,ngapain kamu tepuk tangan ?”tanya si Mamat.”Mampus bodoh banget sih aku “sambil menepuk keningnya. “ngapain tepuk tangan Dinda?”tanya teman sebelahnya . “hehe refleks”jawab Dinda.
            Disaat istirahat Dinda selalu menyempatkan diri mengunjungi perpustakanan , yang ia cari bukan novel melainkan majalah IT yang sedang membuming,setelah ia mengisi daftar hadir segera ia duduk manis membaca majalah itu.disamping tempat duduknya muncul seorang lelaki berlesung di kedua pipinya,Dinda pun hanya melihat sekilas saat lelaki itu tersenyum ramah padanya,walaupun ia tak pernah bertemu sebelumnya namun senyuman itu membuat hati Dinda berdetak lebih cepat. Tak terasa sudah 20 menit ia duduk disamping lelaki itu , bel masuk pun sudah berdering,sambil membereskan majalah ia tak sadar mengambil pensil 2B lelaki itu. “Incha Prasetya”ia baca sekilas kertas yang menempel di pensil 2B itu.”Loh ini pensil anak lelaki itu,gimana balikinnya?”gelisah Dinda dalam hati.
            Saat bel pulang sekolah tiga serangkai itu tak sengaja bertemu Dinda, saat itu Dinda duduk di sendiri dibawah bonsai dan memberi makan burung-burung merpati. “liat cewek itu,barusan aku bentakin waktu MOS “kata Mamat. “Tuh anak juga kenak bola basket waktu aku shotting ke ring kemaren,tapi manis juga sih ”sambung Irsad. “besok kalian bakal  naksir sama cewek itu”kata Incha .”naksir , ogah “jawab Mamat dan Irsad serentak.
Hari pun silih berganti namun entah mengapa pandangan ketiga lelaki itu tak pernah lepas dari gerak gerik Dinda . Malah Mamat berfikir untuk mendapatkannya di pensi ulang tahun sekolah. Begitu juga dengan Irsad karna ia terkenal kapten basket disekolah dengan mudahnya  ia mendapat kan gadis ketus itu.
Setelah MOS selesai Dinda merasa semakin dekat dengan kakak kelas itu , setiap pulang sekolah ia tak lupa menuggu nya di bawah pohon cemara dan mengajak Dinda pulang menaiki sepeda vixi hijau toscha nya. Memang disini beda dengan kota yang lain pelajar SMA lebih suka berjalan ataupun bersepeda daripada menggunakan motor pribadinya.
Hal yang Dinda ingat, saat ia menanyakan sebuah pensil 2B miliknya,untung saja benda itu masih tersimpan rapi di dalam kotak pensil
            “ Pensil ku mana ?” tanyanya sambil mengeluarkan buku gambar berukuran A3 di dalam tas nya,
            “ iya iya nih masih runcing .” Cibir Dinda
            “ hem lumayan, kamu duduk disana diam jangan bergerak !” perintah Incha pada Dinda.Ia menurutinya hingga 20 menit berlalu Dinda seperti patung yang tak dipebolehkan kedip sekalipun.
            “ wait...1..2..3.. ,nih  perfect kan ?” tanyanya dengan angkuh
Ternyata ia menggambar sketsa wajah Dinda dengan rambut lurus sebahu,memakai bandana dan sebuah kalung dileher.Dinda pun merasa terkesima saat melihat sketsa itu  tapi terkadang ia juga terharu dibalik kedua lesung pipi Incha terdapat satu goresan problema ekonomi yang membelengguh nya.
Purnama masih hinggap ditengah kegelapan , angin tak seperti biasanya kali ini menembus pikiran kedua lelaki itu , hembusan angin yang merasuk dadanya tak mempan meredam kan amarah. “Kau pikir kami senang melihat kau bersama gadis itu , hatimu patut disiram air panas agar kau bisa merasakan betapa panas nya perasaan ini !” begitu ancaman Irsad terhadap Incha “kurang apa bantuan yang telah kami berikan padamu ?”tambah Mamat. “apa yang ada di otak kalian ? apa gara-gara gadis itu persahabatan ini kalian hentikan sendiri ?” tak sekedar dengan gelengan kepala tapi Incha terngiang akan ucapan sampah dari mulut kedua sahabatnya itu  mengapa keluar sekehendak hatinya begitu saja. Sejak pertengkaran di sebuah lapangan basket ditemani  rinaian air hujan mereka menyudahi ikatan sebuah persahabatan yang telah mereka genggam selama ini . satu kata yang dijadikan prinsip mereka adalah“KITA JALANI KEHIDUPAN MASING-MASING” mulai detik itu dan seterusnya mereka tak pernah terlihat seperti burung dan sangkarnya, mereka bagaikan magnet yang memiliki kutub yang sama hingga mereka saling tolak menolak ataupun menjauh saat berpapasan.
Semburat sinar  kuning menembus celah-celah langit biru kabut putih masih menutupi puncak gunung arjuna , lalu matahari tiba-tiba merekah dengan sendirinya tapi keadaan itu tak membuat pikiran Dinda terang begitu saja bayangan akan senyuman Incha yang hilang masih sering menghantuinya. Ya .. mungkin itu hal yang sudah di pilih Incha menjauh dari Dinda demi persahabatan nya utuh kembali .
Malam ini , malam yang ditunggu sebagian besar murid baru disekolah,Ya pada malam pensi ini mereka akan mendengar nyanian merdu dan petikan alunan akustik dari seorang lelaki yang sudah lama mereka kagumi siapa lagi kalo bukan Mamat kakak kelas sekaligus KETOS di sekolah ini . semakin malam semakin terasa kemistri di acara itu . Tiba-tiba sosok yang mereka kagumi sudah berdiri di atas panggung dengan gitar dan sebuah kursi yang akan ia duduki nanti. Namun nafas mereka tersendat saat Mamat mengatakan “Lagu ini akan saya persembahkan untuk gadis yang duduk dibawah pohon rindang itu Dinda Larasanti “ tiba-tiba ratusan mata penuh kecemburuan telah menuju pada pandangan Dinda yang sedari tadi duduk menikmati arum manis ditangannya. Berbeda dengan Incha dan Irsad ditempat yang tak sama tapi pikiran mereka di satu titik” nyanyian Mamat untuk Dinda”seakan mereka kalah 1 langkah dalam mendapatkan sosok si manis itu. Gemuruh tepukan tangan terdengar di sela-sela saat Mamat menyanyikan lagu “The Way You Look At me-Christian Bautista. Setelah nyanyian itu berakhir kesunyian pun melanda saat Mamat menghampiri Dinda dan mengungkapkan perasaannya tapi Dinda hanya terdiam kaku lalu berlari meninggalkan tempat itu tanpa mengeluarkan 1 kata pun,Mamat pun menyimpulkan bahwa kepergian Dinda itu telah menjawab pertanyaan nya.
            Keesokan harinya Hal yang sama terulang kembali seakan-akan Irsad tak mau kalah dalam mengungkapkan perasaan itu. Saat jam istirahat telah datang ia menurunkan sebuah kertas pelangi berbentuk Love bertuliskan “I LOVE YOU Dinda “ tepat disamping jendela tempat Dinda duduk , Tetapi Dinda pun dengan mudahnya mengambil gunting dan memotong tali itu hingga tulisan itu jatuh tak berdaya di dalam selokan.
            Tingkah Ketiga serangkai itu membuat Dinda menjadi kehilangan konsentrasinya saat mengikuti KBM. Akhirnya ia putuskan bertemu dengan mereka di sebuah taman sore hari. Pukul empat sore , matahari seakan perlahan menghilang dilangit bagian barat, lalu berganti warna biru , biru yang luas menguasai angkasa,satu warna yang bisa dirasakan kedamaiannya merajuk di dalam dada. Mereka silih ganti berdatangan. Mereka hanya bertanya dalam hati untuk apa mereka bertemu ? tapi penjelasan Dinda sudah cukup menjawab pertanyaan nya. Mamat dan Irsad pun mengakui bahwa Inchalah yang dipilih Dinda, mesti tak terucap lewat kata-kata ,Dinda tau bahwa senyum mereka itu adalah tulus tak ada rasa benci dan kembalinya persahabatan mereka suda ada di depan mata.
Incha mengajak Dinda keluar nanti malam,tentu saja ia menyetujui ajakannya. Saat malam datang sendirinya menunggu didepan rumah dengan menggenggam lembaran hasil sketsanya dan sebuah laptop yang menemaninya, 90 menit berlalu ia masih menunggu kehadiran Incha,hembusan angin yang menyapanya tak membuat ia sedikitpun masuk ke dalam rumah.
Tiba-tiba Dinda melihat layar di jendela maya twitter , HOME yang banyak berisi ucapan SELAMAT JALAN untuk Incha membuat wajah Dinda cemas,ia baru yakin saat  HP nya berdering panggilan dari Mamat yang mengabarkan bahwa Incha kecelakaan saat hendak menjemputnya dirumah.
Tubuh Dinda tak berdaya, denyut nadinya berjalan lambat, Lembaran sketsa itu lepas dari genggaman, tumpahan air mata yang tak sanggup ia bendung lagi saat dia mengetahui bahwa Incha kecelakaan saat hendak pergi menemuinya. Bergegas ia mencari tau dimana rumahnya....tepat di persimpangan jalan banyak polisi yang sedang bertugas, ya saat itu Dinda melihat pecahan spion dan setir sepeda Incha, bahkan ia menemukan pensil 2B dan boneka berlumuran darah yang masih Dinda simpan hingga sekarang.
Keesokan harinya suasana sekolah menjadi dingin , tak ada sapaan “selamat pagi”,senyuman ramah itu menghilang jauh dari mata,ucapan selamat jalan,doa bahkan bingkisan bunga selalu ada di bangku Incha.Mamat dan Irsad memberi Dinda  sebuah diary Incha. saat ia buka ternyata disetiap lembaran itu ada sketsa tubuh saat Dinda berjalan, tersenyum dan saat memberi makan burung-burung merpati,sepulang sekolah mereka pun memutuskan  pergi kepemakaman Incha , di tengah perjalanan Irsad dan Mamat berhenti sejenak di lapangan bola basket mereka menyesal saat prtengkaran itu terjadi,karena saat itu terakhir kalinya mereka bersama . sepeda vixi yang berjajar 3 kini hanya 2.
Saat berada di pemakaman , Dinda pun memegang batu nisan Incha,  menaburkan bunga seketika berkata dalam hati“TUHAN terimakasih  kau telah memberiku 1 halaman cerita yang indah, Kak Incha  andai saja kamu mengungkapkanya sekarang pasti kamu tau apa yang aku jawab nanti,” pintanya  lirih sambil menghapus air mata dipipi. Mamat dan Irsad pun tak sungkan meneteskan air mata,mereka ingin meminta maaf dan mengulangi persahabatan itu, mereka sadar persahabatan itu melebihi segalanya . Tapi itu sudah terlambat,penyesalan selalu datang terakhir, Akhirnya mereka pun berjanji akan menjaga Dinda samapai kapanpun untuk sahabat mereka Incha disurga , rintikan hujan pun ikut menjadi saksi kepergian sahabat kecilnya itu. Terlintas mereka melihat Incha melambaikan tangan nya , mengucapkan selamat tinggal dengan senyuman manis yang khas dengan lesung dikedua pipinya J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar